Mahasiswa: Berani Bicara, Takut Bertanggung Jawab?

PMIIALFANANI-Ada ironi yang perlu kita renungkan di ruang-ruang kelas hari ini. Kita sering berbicara tentang perubahan, keadilan, kepemimpinan, bahkan lantang mengkritik kebijakan. Namun ketika dosen bertanya, “Siapa yang bersedia menjadi penanggung jawab kelas?”, tiba-tiba ruang kelas menjadi sunyi.

Lantas, di mana letak keberanian mahasiswa?

Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang kartu tanda mahasiswa, presensi, tugas, dan nilai akademik. Lebih dari itu, mahasiswa adalah manusia yang sedang ditempa untuk memiliki kesadaran, keberanian, dan tanggung jawab.

Jika menjadi penanggung jawab kelas saja kita masih saling menunggu, bagaimana mungkin kita berbicara tentang menjadi agen perubahan?

Jangan sampai keberanian kita hanya tumbuh ketika berada di balik layar, di grup WhatsApp, atau ketika mengkritik orang lain. Sebab kritik tanpa keberanian mengambil tanggung jawab hanyalah suara yang kehilangan makna.

Ruang kelas adalah ruang kecil untuk belajar bertanggung jawab sebelum kita berbicara tentang tanggung jawab yang lebih besar di tengah masyarakat. Dari hal sederhana seperti menjadi koordinator, menghubungi dosen, mengatur teman sekelas, hingga memastikan kepentingan bersama berjalan dengan baik.

Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dari keadaan. Mahasiswa harus berani mengambil posisi, mengambil peran, dan mempertanggungjawabkan pilihannya.

Sebab pergerakan tidak selalu dimulai dari mimbar, demonstrasi, atau pengeras suara. Terkadang, pergerakan dimulai dari keberanian sederhana untuk berkata:

“Saya siap bertanggung jawab.”

Maka, mulai hari ini, mari berhenti menunggu siapa yang akan bergerak. Ketika kelas membutuhkan penanggung jawab, ambillah peran. Ketika ada persoalan bersama, jangan hanya menjadi komentator. Ketika ada amanah yang harus dijalankan, jangan buru-buru mencari orang lain untuk melaksanakannya.

Mulailah dari ruang kelas. Berani menjadi penanggung jawab, berani mengorganisir, berani mengambil keputusan, dan yang paling penting, berani mempertanggungjawabkannya.

Karena mahasiswa yang benar-benar ingin berbicara tentang perubahan harus terlebih dahulu mampu membuktikan bahwa dirinya sanggup bertanggung jawab atas hal-hal kecil di sekitarnya.

Dan mungkin, pertanyaan yang paling pantas kita ajukan kepada diri sendiri hari ini bukan “Apa yang bisa saya dapatkan sebagai mahasiswa?”, melainkan:

“Apa yang sudah berani saya pertanggungjawabkan sebagai mahasiswa?”

Jangan hanya menjadi mahasiswa yang pandai bersuara. Jadilah mahasiswa yang berani mengambil peran. Karena perubahan tidak lahir dari mereka yang hanya menunggu, tetapi dari mereka yang berani berkata: “Saya siap bertanggung jawab.”

*) Penulis: Muhammad Nizar Fahmi, Ketua Biro Keagamaan PMII Rayon Al-Fanani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *